Sejarah Terbentuknya Pura Dalem Balingkang, yang Menjadi Awal Mula Penggunaan Uang Kepeng di Sarana Upakara Bali
Dalam sejarahnya, raja Sri Dharma Udyana Warma Dewa wafat di tahun 993 atau 1011, beliau meninggalkan 3 putra, pucuk pemerintahan digantikan oleh Haji Sri Dharma Wangsa Wardhana Marakata Pangkaja Sthana Uttunggadewa, setelah beliau meninggal digantikan oleh adik beliau Sri Haji Anak Wungsu.
Baca Juga: Kisah Terbentuknya Segara Rupek, Awal Mula Terpisahnya Pulau Bali & Jawa
Sepeninggal Sri Haji Anak Wangsu, kerajaan di Bali hampir kacau balau, silih berganti digantikan oleh keturunan beliau untuk naik tahta dan memerintah Bali Dwipa, akhirnya sampailah pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus. Sri Haji Jayapangus memerintah Bali Dwipa sekitar tahun 1053 Çaka (1131 M), beliau memiliki permaisuri bergelar Sri Parameswari Induja Ketana berasal dari Danau Batur, sang permaisuri sangat bijak dan menjadi putri utama. Pada pemerintahannya didampingi oleh dua penasehat yaitu Mpu Siwa Lim dan Mpu Siwa Gandhu.
Ada seorang saudagar dari Tionghoa bernama Kang terdampar dan sampai akhirnya di Batur, yang mempunyai putri bernama Kang Cing We, kecantikan Kang Cing We ini terdengar juga oleh Sri Haji Jayapangus dan keinginan beliau untuk memperistri anak saudagar ini sangat besar, walaupun oleh penasehatnya Mpu Siwa Gandhu sudah dinasehati agar keinginan beliau dibatalkan karena adanya perbedaan keyakinan, raja beragama Hindu sedangkan putri beragama Budha, tapi sang raja tidak mendengarkannya.
Dengan segera beliau melakukan upacara pernikaha. Sang saudagar merelakan putrinya dipersunting raja dan mempersembahkan 2 keping uang kepeng sebagai bekal sang putri dalam mengabdikan diri kepada sang raja, dan minta agar raja menganugrahkan uang kepeng tersebut kepada seluruh rakyat beliau di Bali Dwipa, itu sebabnya sampai sekarang, sarana uang kepeng ini digunakan sebagai sarana perlengkapan persembahyangan di Bali.
Kemudian Mpu Siwa Gandhu memohon anugrah dengan khusuk kepada para dewa untuk memohon hujan lebat dan angin ribut selama 1 bulan 7 hari, sehingga keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon menjadi rapuh dan musnah. Diiringi oleh para abdinya mengungsi ke hutan di desa Jong Les, di sana beliau merambas hutan serta semak belukar melalu proses upakara yadnya, serta bangunan suci kerajaan bernama pura Dalem Balingkang.
Kata Dalem itu sendiri diambil dari kata Dalem Jong Les, kata Bali saat beliau menguasai jagat Bali sedangkan Kang diambil dari istri beliau yang bernama Kang Cing We. Kemudian dalam perjalanan sejarah karena Gunung Batur Meletus hancurlah kerajaan Sri Haji Jayapangus. Kemudian pada akhirnya oleh Ksatrya Dalem dengan gelar Ida Dewa Agung Mayun Sudha, karena ada pawisik membangun lagi bebaturan yang tersisa menjadi Pura Dalem Balingkang.