Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Sejarah Pura Ratu Mas Sakti, Seseh, Badung "Harmonisasi Hindu-Islam"

W wiwik 2 menit baca 1x dibaca
Sejarah Pura Ratu Mas Sakti, Seseh, Badung "Harmonisasi Hindu-Islam"
Bagikan

Jika ingin berwisata spiritual, Pura Ratu Mas Sakti atau Keramat Pantai Seseh yang terletak di kawasan Pantai Seseh, Mengwi, Badung, bisa menjadi salah satu pilihan. Pura ini memperlihatkan harmonisasi umat Hindu dan Islam.

baca juga : Misteri Pohon Angker yang Konon Katanya Dijaga Harimau Gading di Jembrana

Sekitar 400 tahun yang lalu, Raja Mengwi mengunjungi daerah Blambangan, Jawa Timur. Di sana sang raja kemudian memiliki seorang istri. Dari perkawinan tersebut, lahir seorang pangeran yang bernama Radeng Amangkuningrat. Sementara sang raja telah kembali ke Mengwi.

Ketika beranjak dewasa, ia bertanya kepada sang ibu, tentang keberadaan sang ayah. Oleh ibundanya kemudian dikatakan, ayah Raden Amangkuningrat adalah Raja Mengwi.

Mendapat penjelasan sang ibu, Raden Amangkuningrat yang memeluk agaman Islam kemudian berangkat ke Bali Dwipa dan langsung menuju ke Kerajaan Mengwi, didampingi sekitar 40 kiayi. Konon karena kesaktiannnya, beliau bisa berjalan di atas air. Beliau adalah seorang sidhi sakti.

Setibanya di Mengwi, ternyata ayahanda Raden Amangkuningrat sudah mangkat. Sementara yang masih hidup adalah ibu tirinya. Timbullah kesalahpahaman antara pihak kerajaan dan sang raden. “Karena merasa kecewa, akhirnya beliau diutus dari Kerajaan Mengwi ke Seseh. Dalam perjalanan, ternyata beliau meninggal. Entah dibunuh atau bagaimana,” terang Jro Mangku.

Namun, konon beliau sempat berpesan kepada pengiringnya, jika suatu saat meninggal, agar dibuatkan makam. Di samping itu, beliau juga minta dibuatkan meru atau merajan yang letaknya hanya sekitar 15meter dari lokasi makam. Nah, merajan yang berisi meru tumpang 11 tersebut kemudian diberikan nama Pura Ratu Mas Sakti.

Jro Mangku Keramat mengatakan dirinya dulu kerap dirundung masalah kehidupan, baik dalam keluarga maupun sakit. “Tiang dulunya banyak cobaan, seperti sakit dan masalah keluarga. Almarhum bapak tiang yang merupakan pamangku sebelumnya kemudian meminta agar tiang ngayah sebagai pemangku karena mendapat pawisik. Termasuk tiang juga mendapat pawisik lewat mimpi agar bersedia ngayah,” jelasnya.

W

Ditulis oleh

wiwik

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.