Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Ada Beberapa Rangkaian Acara Saat Perayaan Hari Raya Nyepi yang Wajib Masyarakat Bali Tahu

W wiwik 2 menit baca 1x dibaca
Ada Beberapa Rangkaian Acara Saat Perayaan Hari Raya Nyepi yang Wajib Masyarakat Bali Tahu
Bagikan

Terdapat beberapa rangkaian tradisi umat Hindu saat Hari Raya Nyepi setiap tahun, khususnya di daerah Bali, antara lain:

  1. Melasti

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis.

Pada hari itu, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau untuk dibersihkan atau disucikan.

  1. Upacara Bhuta Yadnya & Pengrupukan

Satu hari sebelum Nyepi yaitu pada 'tilem sasih kesanga' (bulan mati ke-9), seluruh umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya.

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian atau pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya.

Di Bali, pengerupukan biasa dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling desa dan kemudian dibakar di atas api unggun. Tujuannya sama yaitu untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

  1. Puncak Acara Nyepi

Keesokan harinya yaitu pada pinanggal pisan, sasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya.

Pada hari ini, suasana seperti kota mati. Tidak ada kesibukan aktivitas pada umumnya. Di hari ini, umat Hindu akan melaksanakan 'Catur Brata' Penyepian.

  1. Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada 'pinanggal ping kalih' (tanggal 2) sasih kedasa (bulan ke-10).

Pada hari ini, Tahun Baru Nyepi sudah memasuki hari kedua. Umat Hindu akan melakukan Dharma Santi (silaturahmi), dari siang hingga sore.

Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang semua manusia di seluruh penjuru Bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Baca Juga: Sejarah Pura Ratu Mas Sakti, Seseh, Badung “Harmonisasi Hindu-Islam”

  1. Omed-omedan

Tradisi Omed-omedan diikuti oleh para pemuda-pemudi setempat berusia 17 hingga 30 tahun yang belum menikah.

Semua peserta Omed-omedan diwajibkan mengikuti upacara atau sembahyang di Pura Banjar sebelum mengikuti prosesi ini.

  1. Mebuug-buugan

Tradisi Mebuug-buugan juga dilakukan oleh warga Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Tradisi ini diambil dari kata 'buug', artinya tanah atau lumpur untuk membersihkan diri saat menyambut tahun yang baru.

W

Ditulis oleh

wiwik

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.