Ngerebong, Tradisi Unik Dari Denpasar Sejak 1937
Ngerebong adalah sebuah pangilen yang dilaksanakan di Pura Agung Petilan untuk menciptakan keseimbangan dunia.
Tradisi ini sudah dipatenkan sejak tahun 1937, namun telah dilaksanakan dengan kapasitas yang lebih kecil di area Kerajaan atau Puri Kesiman. Ada beberapa rangkaian yang wajib dilaksanakan sehubungan dengan Ngerebong. Yakni Ngerebek yang dilaksanakan pada Umanis Galungan, dilanjutkan dengan Pamendakan Agung pada Paing Kuningan, dan terakhir adalah Ngerebong.
Tradisi ini melibatkan semua Mangku Pepatih yang merupakan wilayah Desa Kesiman terdahulu. Dahulu diyakini Puri Kesiman memiliki wilayah yang sangat luas, hingga ke Desa Sanur dan Pemogan. Jadi, yang tangkil ke Pura Agung Petilan saat pelaksanaan pangerebongan adalah Sesuhunan yang merupakan warih Puri Kesiman.
Pihaknya sendiri tidak dapat memprediksi berapa jumlah pepatih yang mengikuti prosesi ini. Jika ditafsir lebih dari seratus orang yang bergerak mengelilingi wantilan. Sedangkan di waktu yang sama dilaksanakan Tabuh Rah di Wantilan Pura, yang disaksikan langsung oleh Jro Mangku Pura Dalem, Jro Mangku Pura Desa, dan Patih Cakra Ninggrat yang berdiri di Pamedalan Agung.
Dalam pelaksanaan Ngerebong, yang unik adalah Keris, Ngurek dan Penjor yang megah. Dalam tradisi ini, sejumlah pamedek trance (kasurupan) dengan menusukkan keris ke tubuhnya. Bahkan ada yang menusukkan di bagian matanya.
Berdasarkan buku hasil penelitian Sejarah Pura yang dilakukan IHD (kini Unhi) Denpasar tahun 1979, upacara Pangerebongan tergolong upacara bhuta yadnya atau pacaruan. Sehingga, upacara Pangerebongan itu bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk memelihara keharmonisan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesama umat manusia dan dengan alam lingkungannya.
Prosesi upacara Pangerebongan dilakukan Redite Pon Medangsia sejak pagi, dan dilakukan upacara tabuh rah. Selanjutnya para manca dan prasanak pengerob Pura Petilan di Kesiman dengan pelawatan berupa Barong dan Rangda semuanya diusung ke Pura Petilan untuk mengikuti upacara Pangerebongan. Sebelum ke Pura Petilan didahului dengan upacara panyucian di Pura Musen di sebelah timur Pura Petilan di pinggir barat Sungai Ayung. Selanjutnya, setelah kembali ke pura barulah upacara Pangerebongan dimulai.
Diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci Bhatara-Bhatari agar turun melalui pradasar-nya dari para umat dari para manca dan prasanak pangerob. Umumnya para pengusung rangda dan pepatihnya setelah dilakukan upacara Nyanjan dan Nuwur itu dalam keadaan trance (karauhan). Selanjutnya semua pelawatan Barong dan Rangda serta para pepatih keluar dari Kori Agung, terus mengelilingi wantilan dengan cara prasawia tiga kali.
Mengelilingi dengan cara prasawia itu adalah para pelawatan Barong Rangda dan pepatihnya bergerak dari timur ke utara, ke barat, ke selatan dan kembali ke timur. Terus demikian sampai tiga putaran.
Saat melakukan prasawia itu, para pepatih melakukan ngunying atau yang dipakai ngurek itu keris tajam yang sungguhan, dada para pepatih itu tak sedikit pun terluka. Kalau sudah acara prasawia ini selesai semuanya kembali ke Gedong Agung dengan upacara Pengeluwuran.
Setelah upacara Pangeluwuran itu, dilanjutkan dengan upacara Maider Bhuwana Bhatara-Bhatari para Manca dan Prasanak Pangerob dengan semua pengiringnya kembali mengelilingi wantilan tiga kali dengan cara Pradaksina. Mengelilingi dengan cara Pradaksina berlawanan dengan cara Prasawia tadi. Selanjutnya upacara mengelilingi wantilan dengan cara Pradaksina atau mengikuti arah jarum jam.
Pradaksina ini dilakukan tiga kali sebagai simbol pendakian hidup dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi menuju Swah Loka, yaitu alam kedewatan. Karena itulah upacara ini disebut upacara Maider Bhuwana mengelilingi alam semesta. Setelah selesai mengelilingi wantilan dengan Pradaksina semuanya kembali ke Jeroan Pura.
Adanya prosesi Prasawia dan Pradaksina dalam upacara Pengerebongan di Pura Petilan Kesiman ini sangat menarik untuk dipahami makna filosofinya. Prosesi Prasawia bermakna untuk meredam aspek Asuri Sampad atau kecenderungan keraksasaan, sedangkan Pradaksina sebagai simbol untuk menguatkan Dewi Sampad, yaitu kecenderungan sifat-sifat kedewaan. Kalau kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad) berada di bawah kekuasaan Dewi Sampad, maka manusia akan menampilkan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupan kesehariannya.
Ya seharusnya ngider bhuwana tiga kali, tapi karena hujan hanya dilaksanakan sekali saja, dan biasanya itu sudah dimohonkan oleh para pemangku terkait.
Mangku Pura Kahyangan Bajangan Kesiman, Made Karda, mengatakan Ngerebong merupakan tradisi krama Desa Adat Kesiman yang dilakukan setiap enam bulan sekali tepatnya di redite medangsia. Saat ngerebong ini, yang lunga (datang, Red), yakni pralingga-pralingga yang ada di pura-pura di Desa Pakraman, Kesiman, dan ada juga dari Br. Singgi, Sanur, serta juga kadang-kadang dari Sawangan, Bualu, Nusa Dua.