Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Bhuta Cuil, Makhluk Halus Pengganggu Kehidupan Manusia yang Harus Diupacarai

W wiwik 2 menit baca 1x dibaca
Bhuta Cuil, Makhluk Halus Pengganggu Kehidupan Manusia yang Harus Diupacarai
Bagikan

Jenazah orang yang telah meninggal berpuluh puluh tahun dan tidak diaben diyakini akan menjadi Bhuta cuil. Bhuta Cuil adalah Bhuta atau makhluk halus yang umumnya selalu mengganggu kehidupan manusia (prati sentana). Jadi, roh manusia yang telah meninggal puluhan tahun, namun belum dilaksanakan upacara Ngaben berisiko akan menjadi Bhuta Cuil.

Baca juga : Tari Barong di Bali, Seni Tradisi Masyarakat Bali yang Sarat Arti

"Dalam filsafat Samkhya disebutkan, bahwa Purusa dan Prakerti saling tarik menarik. Oleh sebab itu, ketika manusia meninggal, maka unsur Prakerti (badan kasar) yang terdiri dari Panca Mahabhuta (Raga Sarira) harus dibersihkan dengan cara upacara Ngaben, sehingga unsur Purusa yang disebut Atman atau Antahkarana Sarira serta Suksma Sarira akan menjauh dari tarikan Prakerti," papar Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.

Roh yang sudah menjadi Bhuta Cuil biasanya akan mengganggu keluarga yang ditinggalkan. Secara niskala mereka akan berusaha mengganggu, menggoda agar keturunannya segera melaksanakan prosesi Pangabenan. "Atman itu bersih dan suci. Tapi kalau roh dia masih terikat Suksma Sariranya. Karena itu roh-roh bisa gentayangan, apa lagi yang meninggal Salah Pati, biasanya masih memiliki nafsu, dan keinginan sama seperti halnya manusia,"terangnya.

Untuk menangani jenazah yang puluhan tahun telah dititipkan di Ibu Pertiwi, lanjutnya, ada rangkaian khusus yang dilaksanakan dalam prosesi Pangabenan yaitu upacara Pangaskaran. " Pangaskaran merupakan upacara inisiasi roh agar dari Preta menjadi Pitra. Itulah sebabnya dalam upacara Pangabenan memerlukan upacara Pangaskaran (askara atau inisiasi roh). Tujuannya, agar roh tersebut bersih atau terbebas dari Suksma Sarira," ujarnya.

Yang dimaksud Preta adalah roh yang masih diikat oleh Suksma Sarira. Sedangkan Pitra adalah Atman atau Antahkarana Sarira yang telah bebas dari pengaruh Suksma Sarira. Ia menekankan, dalam upacara Ngaben haruslah melakukan upacara Pangaskaran agar Atman tersebut bersih atau bebas dari ikatan Suksma Sarira.

W

Ditulis oleh

wiwik

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.