Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Pura Tap Sai, Tempat Bersemedi & Istana 3 Dewi yang Cantik

W wiwik 2 menit baca 1x dibaca
Pura Tap Sai, Tempat Bersemedi & Istana 3 Dewi yang Cantik
Bagikan

Sejak beberapa tahun lalu, Pura Pajinengan Gunung Tap Sai, mulai ramai didatangi umat Hindu dari berbagai daerah di Bali. Pura ini terletak di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Pengemponnya adalah krama Puragae.

Salah seorang pemangku di pura setempat, Jro Mangku Santa mengatakan, pura itu sebenarnya bernama Pura Pajinengan. Berada di lereng Gunung Agung. Nama Jineng itu menurutnya diambil dari Gunung Jineng yang ada di sana. “Secara umum namanya Gunung Agung,” jelasnya.

Baca Juga: Makna Nama Orang Bali yang Memiliki Filosofi

Kunjungi : PUTUSIN PACARMU KALAU GAK DUKUNG USAHAMU!!! Part 2 || Sirah Podcast

Jro Mangku Santa menceritakan, Tap Sai itu berawal dari kata matapa sesai atau sai-sai (setiap hari bertapa atau bersemedi, Red). Semakin sering diucapkan, malah menjadi Tap Sai.

Konon, tempat berdirinya pura itu dulunya adalah tempat bersemedi. Ada tiga dewi berstana di pura itu. Yakni Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Laksmi atau disebut Bhatara Rambut Sedana, dan sering pula disebut Tri Upa Sedana. Umat Hindu percaya bahwa dengan memohon atau nangkil ke pura itu, akan mendapat anugerah dan keturunan.

Pura Tap Sai
Pura Pajinengan Gunung Tap Sai

Bagi mereka yang akan nangkil, diharapkan mematuhi aturan yang ada, yakni dilarang langsung nyelonong ke utama mandala. Ada beberapa tahapan sembahyang mesti dilalui.

Dimulai dari paling bawah di palinggih Ratu Penyarikan Pengadang-adang, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Gede Mekele Lingsir. Sebuah palingih batu besar bertuliskan huruf Bali. Naik lagi, itu ada palinggih Widyadara-widyadari. Kemudian dilanjutkan pangayengan Dalem Ped (Pura Dalem Ped di Nusa Penida). Selanjutnya naik lagi menuju beji. Di sana, pamedek malukat dengan tirta yang disebut tirta bang, yang merupakan salah satu jenis tirta di pura itu.

Mangku Santa menyebutkan, ada tiga tirta dari klebutan atau sumber air berbeda di pura itu. Yakni tirta bang, tirta selem, dan tirta putih.

Setelah malukat di beji ini, baru diperkenankan masuk areal madya mandala. Di sana terdapat sebuah palinggih Ganesha atau oleh pamangku setempat disebut Sanghyang Gana. Setelah nangkil di sana, dilanjutkan ke utama mandala yang merupakan komplek palinggih Ida Bhatari Tri Upa Sedana. Palinggih Lingga Yoni juga ada di sini. Setelah itu, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Hyang Bungkut.

W

Ditulis oleh

wiwik

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.