Kanda Pat, Empat Saudara Niskala yang Menjaga Manusia di Dunia
Kanda Pat umumnya dikenal sebagai empat saudara yang terlahir bersamaan dengan seorang bayi ke dunia (mayapada). Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda mengatakan, Kanda Pat berasal dari kata kanda yang memiliki arti saudara, teman, tutur, dan kewisesaan. Pat berarti empat. Dari asal katanya Kanda Pat berarti empat saudara berwujud halus yang selalu mengiringi roh ( sukma) manusia dari dilahirkan hingga meninggal dunia.
Baca juga :Â Hati-hati! Terawangan Balian Bisa Saja Keliru, Berikut Penjelasannya
Kanda Pat memiliki dasar ajaran, yaitu Kanda Pat Dewa, Kanda Pat Manusia, dan Kanda Pat Bhuta. Kanda Pat erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana, Tri Kona, Tri Guna, dan Tri Kaya Parisudha. Karena dasar konsepnya manusia merupakan penggambaran dari sifat – sifat kedewaan, sifat satwam rajas tamas dan sifat - sifat bhuta.
Ketuban dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan sebagai Anggapati. Anggapati merupakan wujud halus dari air ketuban yang menguasai badan manusia. Darah dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan berwujud Prajapati. Lamas atau lemak dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan sebagai Banaspati, dan ari – ari digambarkan sebagai Banaspatiraja dan tubuh bayi digambarkan sebagai Bhuta Dengen.
Dikatakannya, konsep Kanda Pat Manusia, justru terbilang lebih sederhana. Konsep ini merupakan implementasi dari Pawongan dalam Ajaran Tri Hita Karana.
“Implementasi dari konsep Kanda Pat Manusia ini adalah otonan. Makanya, sangat penting bagi seorang manusia ngotonin, untuk menjaga hubungan kita dengan saudara Kanda Pat ini, agar senantiasa selalu dilindungi dan berjalan beriringan harmonis,” ungkap Mpu Jaya Prema.
Jika dalam lontar Panus Karma, nyama atau saudara di saat sang jabang bayi berusia 20 hari disebut Anta, Preta, Kala, Dengen. Namun, ketika sang jabang bayi berusia 40 minggu, nyamanya disebut ari – ari, lamas, getih, dan yeh nyom. Apakah makna filosofi dari konsep Kanda Pat tersebut?
Sesungguhnya nyama Kanda Pat, lanjutnya, merupakan manifestasi Sang Pencipta sebagai Sang Hyang Siwa dalam wujudnya sebagai ari – ari, Sang Sadasiwa dalam wujudnya sebagai lamas /lemak, Hyang Parama Siwa dalam wujudnya sebagai darah, dan Hyang Suniasiwa dalam wujudnya sebagai air ketuban.
“Itulah mengapa, ketika bayi terlahir ke dunia bersama ketuban, darah, lemak, dan ari – ari, sebaiknya sang ayah langsung mengubur keempat elemen tersebut di halaman rumah, sesuai desa kala patranya. Secara sekala jika tidak ditanam akan membusuk. Namun, secara niskala jika itu tidak di pertiwikan, maka Nyama Kanda Pat –nya tidak dapat menjaga sang bayi, dan justru akan disalah gunakan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.