Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Setahun Lebih Berlayar Dari Belanda, Kapal Arka Kinari Tiba Di Bali

S sukma 5 menit baca 1x dibaca
Setahun Lebih Berlayar Dari Belanda, Kapal Arka Kinari Tiba Di Bali
Bagikan

sirahbaliinfo.com - Setelah setahun lebih berlayar dari Belanda, Kapal Arka Kinari dengan 8 awak kapal di dalamnya, tiba di Bali pada Kamis (15/10). Proses penyambutan secara resmi kedatangan kapal Arka Kinari baru dilaksanakan pada Minggu (18/10) di Pelabuhan Benoa.

Keberadaan Arka Kinari di Indonesia kali ini adalah kolaborasi dengan Program Jalur Rempah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud. Program Jalur Rempah merupakan sebuah upaya rekonstruksi budaya yang membentuk budaya bahari di Nusantara menuju pengakuan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Selama di Bali kru Arka Kinari akan melaksanakan kegiatan bersama Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali (BPNB) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Bali. Arka Kinari merupakan proyek kapal milik dua musisi lintas benua, Nova Ruth (Indonesia) dan Filastine (Spanyol-Amerika).

Pelayaran kapal ini berjalan dengan misi berupa proyek interaksi lintas budaya di mana tim Arka Kinari rutin melakukan pertunjukan seni dan berkolaborasi dengan penduduk sekitar tempat dimana mereka singgah. Tidak hanya itu, Arka Kinari juga memiliki misi dalam hal kampanye krisis iklim dan kelestarian laut.

Dalam pelayarannya di Indonesia, Arka Kinari bekerja sama dengan Program Jalur Rempah untuk menyambangi peninggalan-peninggalan masa jaya Jalur Rempah dari mulai cagar budaya, hingga menampilkan warisan budaya tak benda. Di samping itu, mereka berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan hasil lintas budaya serta melakukan edukasi ke generasi muda.

Manajer Proyek Arka Kinari, Titi Permata, menuturkan perjalanan Arka Kinari menuju kepulauan Jalur Rempah Nusantara dimulai sejak tahun 2019. Arka Kinari berlayar dari Belanda melewati Portugal, Maroko, Pulau Canary, Tanjung Verde, Trinidad, menyusuri laut Karibia di Venezuela, Laut Pasifik Amerika dan Meksiko, Hawaii, hingga tiba di Indonesia pada September 2020. Setelah singgah di Sorong, Banda Naira, Selayar, dan Makassar, pada Kamis (15/10), Arka Kinari tiba di Pelabuhan Benoa, Bali.

Usai sandar, petugas pelabuhan melakukan serangkaian pengecekan kesehatan dan administrasi terhadap awak kapal. “Arka Kinari memulai pelayaran dari Rotterdam, Belanda 23 Agustus 2019. Dengan menyinggahi beberapa negara dan tempat. Total ada 24 titik dilalui sampai akhirnya tiba di Bali. Dengan mengarungi Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik,” ujar wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Arka Kinari merupakan sebuah kapal layar tiang ganda yang memiliki misi integrasi budaya dan alam sekaligus menelusuri apa yang disebut Jalur Rempah selama ini. Kru kapal ini berasal dari berbagai negara dan suku bangsa. Nama Arka Kinari sendiri memiliki arti, yaitu: Arka berarti kapal, sedangkan Kinari dalam militologi Hindu berarti bertahan hidup. Arka Kinari artinya kami bertahan hidup dalam kapal. “Keragaman yang ada di dalam kapal Arka Kinari menjadi rumah, tempat kerja, studio, dan tempat kami mengelola kehidupan kami selama kami berlayar,” tutur Titi.

Sebagai wujud misinya di bidang lingkungan, pihak Arka Kinari melakukan beberapa pola ramah lingkungan yang diterapkan di kapal. Di antaranya memakai energi terbarukan berupa angin dan tenaga surya, memakai cadangan solar sedikit untuk menjalankan mesin. “Kami mengambil posisi sebagai pencari solusi masa depan. Kami menawarkan bahwa apa yang dilakukan Arka Kinari adalah bentuk respons, akulturasi budaya terhadap kehidupan kita pada saat mengalami perubahan iklim dan juga respons terhdap masalah pandemi,” ucapnya.

Titi menceritakan dalam pelayaran Arka Kinari sempat berganti kapten kapal dan pergantian kru. Kapal ini juga mengalami dua kali goncangan akibat bada di Samudra Pasifik. Saat itu kapal ini sedang melakukan pelayaran menuju Guam, negara di Kepulauan Mikronesia pada bulan Agustus lalu. “Saat itu, kami menyalakan mesin terus sampai BBM tinggal 1 botol. Akhirnya ada kapal tanker dari China yang menolong kami sehingga akhirnya bisa mendekati Guam. Selanjutnya kami masuk Indonesia melalui Sorong,” tutur wanita kelahiran Solo ini.

Ia menambahkan, setelah melintasi Indonesia bagian Timur dan Tengah, Kapal Arka Kinari berencana melanjutkan perjalanan di Indonesia bagian Barat. Akan tetapi, saat ini pihaknya harus melakukan monitoring dan evaluasi terlebih dahulu. Mengingat pula kini sudah memasuki musim hujan dan angin yang tidak tepat untuk melakukan pelayaran dengan baik. “Nanti baru kami lakukan perencanaan berikutnya. Para awak juga sedang memproses visa lagi,” ujarnya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia yang telah menerima Arka Kinari dengan kehangatan dan juga keistimewaan, sehingga mereka boleh menjalankan program di bawah perlindungan negara Republik Indonesia walaupun kapal ini berbendera Belanda. “Sebenarnya tidak boleh ada kapal maupun orang asing yang boleh masuk selama pandemi ini. Tetapi karena kami menjalankan misi negara Indoensia dalam diplomasi budaya melalui Jalur Rempah, kami mendapatkan izin,” pungkasnya.

Kepala BPNB Provinsi Bali, I Made Dharma Suteja, mengatakan kegiatan penyambutan tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. Rencananya awak kapal Arka Kinari akan berada di Pulau Bali hingga tanggal 24 Oktober mendatang. Selama di Bali, awak kapal Arka Kinari bersama dengan BPNB Provinsi Bali dan BPCB Provinsi Bali akan melakukan kolaborasi kegiatan.

Di antaranya workshop navigasi laut; menerima kunjungan kapal dari komunitas budaya; webinar terkait Jalur Rempah; mengunjungi cagar budaya dan museum; pelepasan tukik; kolaborasi seni; penyelaman di Tulamben; kunjungan ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan Dukuh Penaban; serta ramah tamah.

“Rangkaian kegiatan bersama Arka Kinari selama sepekan di Bali ini mengusung platform Rahayu Swagata Arka Kinari. Rahayu Swagata merupakan Bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti Selamat Datang. Selamat Datang Arka Kinari, selamat menyusuri jejak-jejak rempah dan melakukan integrasi budaya di Pulau Dewata,” kata Dharma Suteja.

S

Ditulis oleh

sukma

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.