Langsung ke konten
Logo Sirah Bali Info

Desa Terbersih di Dunia Salah Satunya Ada di Indonesia

A Aris 7 menit baca 1x dibaca
Desa Terbersih di Dunia Salah Satunya Ada di Indonesia
Bagikan

Image From : Instagram @selamathariair

Penglipuran adalah desa yang masih menjaga budaya, tradisi dan hutan bambu mereka sesuai dengan prinsip Tri Hita Karana. Hal ini kemudian yang menjadi ketertarikan sendiri bagi para turis untuk datang berkunjug. Oleh karena itu mulai tahun 1993, pemerintahan Bali mempromosikan Desa Penglipuran sebagai tempat tujuan wisata. Masyarakat Penglipuran menyadari potensi mereka dan mengaplikasikan “Pariwisata berbasis Komunitas” untuk menghindari kapitalisme pariwisata di desa mereka. Dengan konsep ini, tidak ada masyarakat yang akan mendapatkan keuntungan langsung dari pariwisata, karena keuntungan tersebut akan dialokasikan untuk pembangungan desa. Aktor pariwisata seperti pemandu wisata, penjaga tiket dan petugas lainnya akan dipekerjakan langsung oleh desa dan mendapatkan bayaran dari jumlah keuntungan yang didapat, contohnya 40% jumlah penjualan tiket masuk.

Lokasi Desa Adat Penglipuran Bali

Image From : Instagram @selamathariair

Lokasi lokasi Desa Adat Penglipuran, berada di Desa Kubu, kabupaten Bangli, provinsi Bali. Mungkin banyak dari anda tidak tahu, kabupaten Bangli di Bali bagian mana. Jika anda pernah wisata ke Kintamani atau Gunung Batur, inilah wilayah kabupaten Bangli. Jarak dari Kuta ke desa Penglipuran Bangli, kurang lebih 53 kilometer. Dengan perkiraan waktu tempuh, 1 jam 30 menit dengan lalu lintas lancar. Lokasi Desa Penglipuran Bangli berada di ketinggian sekitar 600 – 700 meter dari permukaan laut. Akibat berada di posisi ketinggian ini, membuat udara sejuk akan terbayang oleh anda.

Selain itu, sebelum konsep ini dilaksanakan, masyarakat Desa Penglipuran biasanya bisa mendapatkan keuntungan dengan mengundang masuk turis ke pekarangan mereka sambil menjelaskan tradisi dan budaya mereka. Hal ini dianggap tidak adil karena pekarangan yang jauh dari pintu utama cenderung mendapatkan lebih sedikit kesempatan. Oleh karena itu, melalui konsep baru ini, semua pekarangan diberikan nomor dan pemandu wisata akan memberikan nomor dengan sistem berputar kepada kelompok turis yang datang berkunjung. Setiap rumah juga diberikan kesempatan untuk menjual suvenir di pekarangan mereka masing-masing dengan mengikuti peraturan yang ditetapkan seperti, 5.000 IDR dari setiap suvenir yang terjual harus diberikan kembali untuk mendukung pembangunan desa.

Sebelum tahun 2012, Karena akomodasi yang kurang baik, turis hanya menghabiskan waktu 10-20 menit di dalam desa, tetapi sebenarnya banyak turis yang ingin untuk tinggal dan menghabiskan waktu lebih lama di desa tersebut. Pada saat itu mereka masih ragu karena turis mungkin menjadi ancaman bagi budaya dan tradisi mereka. Tetapi setelah tahun 2012, turis sudah diperbolehkan untuk tinggal setelah pembekalan mengenai cara berperilaku yang sesuai dengan tradisi dan budaya. Hal ini kemudian dianggap berdampak baik karena dapat memperluas kesempatan pekerjaan kedepannya.

 

Jalan utama Desa Penglipuran

Pengolahan lahan Desa Penglipuran sangat dipengaruhi oleh Tri Mandala. Menurut konsep Tri mandala, lahan dibagi menjadi 3 zona sesuai dengan nilai kesuciannya. Zona tersebut kemudian akan ditempatkan sesuai dengan orientasi spiritual yang bernama “Kaja-Kelod”. Hal yang dianggap paling suci akan ditempatkan menuju Gunung Agung (tempat yang paling suci di Bali) dan kebalikannya hal yang paling tidak suci akan ditempatkan menuju laut.

Utama mandala/Jeroan adalah tempat yang paling suci dan berada di paling utara. Tempat ini berisikan tempat penyembahan dewa yang disebut sebagai “Pura”. Pura Puseh Desa digunakan untuk memuja Dewa Brahma (dewa pencipta) dan Pura Bale Agung untuk memuja Dewa Wisnu (dewa pemelihara)

Madya mandala/Jaba Tengah adalah zona untuk manusia. Disini masyarakat Desa penglipuran akan tinggal bersama dengan keluarganya di sebuah unit bangungan yang disebut sebagai “pekarangan”

Nista mandala/Jaba Luar berada di paling selatan dan merupakan zona yang dianggap paling tidak suci. Oleh karena itu, zona ini berisikan Pura Pasetran Prajapati (kuburan desa, Pura Kuburan dan Pura Dalem atau tempat pemujaa Dewa Siwa dewa pelebur).

Jumlah pekarangan di desa ini adalah 77 buah dengan 1 buah “Karang Memadu” Pekarangan ini bagi masyarakat desa Penglipuran digunakan atau diperuntukkan untuk orang yang Beristrikan lebih dari satu dan orang tersebut hidup dikucilkan dari masyarakat dan tidak boleh keluar dari pekarangan ini sampai dia taubat atau menyadari kesalahannya karena memperistri lebih dari satu, “Karang Kerti”. Karang Kerti berarti tempat pengabdian diri kepadan tuhan dengan kehidapan berumah tangga yang baik.

Sama seperti struktur tata letak desa, struktur tata letak satu unit pekarangan juga mengikuti konsep Tri Mandala. Utama mandala/Jeroan di sebuah pekarangan akan berisi pura keluarga untuk menyembah dewa serta leluhurnya, Madya mandala/Jaba Tengah akan digunakan untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (dapur, kamar tidur, dan lain lain). Terakhir, nista mandala/Jaba luar biasanya digunakan untuk mengeringkan baju dan penyimpanan hewan ternak.

Salah satu bahan utama dari seluruh bangunan adalah bambu. Mereka menggunakkan 4-5 lapisan bambu yang dikaitkan satu sama lain untuk membangun atap Sirap dan menganyam bambu untuk dijadikan dinding pembatas ruangan. Tetapi belakangan ini masyarakat penglipuran sudah mulai menggunakkan konstruksi modern karena banyaknya bambu yang ditebang. Pekarangan dapat dimasuki melalui dua sisi dengan pintu utamanya yang berbentuk gerbang dan bernama “angkul-angkul” atau pemedal.

Sistem Pemerintahan Desa Adat

Image From : Instagram @selamathariair

Sistem Pemerintahan Desa Adat Penglipuran disusun dalam satu Lembaga Kepemimpinan Adat yang disebut Prajuru Desa Adat Penglipuran. Lembaga ini terdiri dari dua bagian yaitu Kanca Roras dan Bendesa atau Kelihan Adat.

Kanca Roras

Majelis perwakilan yang beranggotakan 12 orang. Kanca Roras diambil dari kata Ka-anca yang berarti ditugasi dan roras/rolas yang artinya dua belas. Kanca roras mempunyai fungsi menyerupai majelis perwakilan atau badan legislatif dan pembentukannya berdasarkan urutan kesenioran yang bernamakan sistem ulu-apad.

Kelihan Adat

Orang-orang yang dipilih dan dituakan dalam adat. Kelihan adat merupakan pejabat eksekutif yang pengangkatannya dilakukan melalui pemilihan dalam suatu rapat umum (kajudi ring paruman desa). Kelihan Adat mempunyai tugas hanya jika mendapat mandat dari Kanca Roras saja.

Bambu Desa Penglipuran

Bambu dari Desa Adat Penglipuran merupakan salah satu bambu terbaik yang terdapat di Bali. Masyarakat Penglipuran memercayai bahwa hutan tersebut tidak tumbuh sendiri melainkan di tanam oleh pendahulu mereka. Oleh sebab itu bambu dianggap sebagai simbol akar sejarah mereka.

Hutan bambu yang tumbuh di Desa Adat Penglipura mempunyai luas sebesar 37.7 ha (sebelumnya 50 ha) dan terdiri dari 15 spesies bambu yang seluruhnya berstatus milik desa. Sebagian dari hutan tersebut dikelola langsung dibawah Adat Desa sebagai Laba Pura (diperuntukan untuk pemeliharaan bangunan pura) sedangkan sebagian dikelola oleh beberapa penduduk dengan status hak pakai. Bambu juga dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran sebagai bahan untuk membuat bangunan maupun rumah. Berikut adalah beberapa bangunan yang dibangun menggunakan bambu:

Pawon

Bangunan yang berfungsi sebagai dapur yang didalamnya terdapat lumbung padi serta tempat kecil untuk beristirahat. Pawon diangun keseluruhannya menggunakan bambu termasuk atap, dinding, tempat tidur, bahkan peralatan makan yang terdapat di dalamnya.

Bale Sakenem

Bangunan tempat dilaksanakannya upacara agama yang hanya dikhususkan untuk keluarga. Upacara uang sering dilakukan pada Bale Sakenem ini adalah upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dan upacara Manusa Yadnya. Bangunan ini memakai bambu sebagai atapnya.

Bale Banjar

Bangunan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh masyarakat adat di Penglipuran. Bangunan ini tidak memiliki dinding, hanya memiliki tiang penyangga dan digunakan untuk prosesi upacara Ngaben masal dan pertemuan warga.

Dan tahukah Anda, hebatnya Desa Adat Penglipuran ini pernah dinobatkan sebagai Salah Satu Desa Terbersih di Dunia dari tiga desa lain di penjuru dunia. Tidak berlebihan memang jika desa ini termasuk yang paling bersih. Tata letak bangunan rumah (menua/tradisional) terlihat berjejer dan presisi, halaman rumah bersih tanpa satupun sampah yang berserakan.

Suasana hijau sangat tampak, udaranya juga sejuk tanpa polusi. Tidak ketinggalan juga bunga warna-warni tumbuh dibanyak tempat seperti Bunga Bugenvil, Bunga Sepatu, Bunga Mawar, hingga Bunga Kamboja. Sangat memanjakan mata!

KONDISI TERKINI
Tentu kita tahu di awal bulan Maret 2020, Pandemi Virus Corona telah mewabah hamper diseluruh wilayah  di Indonesia. Dari sini kita harus banyak belajar akan pentingnya menjaga kebersihan. Di musim sekarang penyakit demam berdarah mulai mewabah disamping Pandemi Virus Corona yang mematikan dari segi sektor kunjungan pariwisata yang berdampak pada pemasukan keuangan perekonomian warga di Desa Penglipuran.

Nah, demikan pembahasan tentang Pesona dari Desat Adat Penglipuran. Mari bersama kita perangi Pandemi Covid-19 ini dengan memutus rantai penyebarannya, agar semuanya kembali normal untuk beraktifitas dan tentunya Desa Adat Penglipuran bisa kembali di buka untuk umum dan kita semua bisa kembali berwisata kesana. Mari semua masyarakat yang Berbudaya bersama ikut melestarikan, menjaga dan memperkenalkan warisan budaya leluhur kita agar supaya generasi selanjutnya tetap memegang teguh nilai-nilai berbudaya dan berbangsa.

A

Ditulis oleh

Aris

Kontributor Sirah Bali Info yang berbagi kabar dan cerita seputar Bali.