Jero Made Puspawati, Penari Legenda Kesayangan Bung Karno
sirahbaliinfo.com - Jero Made Puspawati terlahir tahun 1933 di Banjar Tegeh Kori Kesiman Denpasar. Pada usia remaja, sudah belajar tari dari maestro tari, I Wayan Rindi dari Banjar Lebah Sumerta Denpasar. Ketika belum kawin ke Puri Satria dan menjadi istri Tjokorda Bagus Sayoga, ia bernama Ni Made Rupawati.
Tahun 1955, setelah perkawinannya dengan kaum bangsawan itu, Rupawati resmi menjadi keluarga puri dan berganti nama menjadi Jero Made Puspawati. Dari perkawinannya itu ia membuahkan seorang putra bernama Anak Agung Gede Puspayoga. Jero made Puspawati terlahir dari pasangan Desak Putu Krenteng seorang penari yang tidak asing pada Zamannya. Sang Ayah I Nyoman Runtung, seorang petani lugu. Dari pihak ibulah darah seninya mengalir.

Atas dorongan ibunya, yang telah memberikan dasar-dasar tari di Zaman Jepang pula pada usia remaja Rupawati belajar Palegongan pada seorang Empu tari dari Banjar Lebah namanya I Wayan Rindi. Bertahun-tahun ia juga sempat belajar tari ke pada I Nyoman Kaler. Dari sini ia menguasai sejumlah tari, diantaranya tari Demang Miring, tari Puspa Wana dan Marga Pati. Sementara dari I Nyoman Ridet dan Ni Reneng ia sempat belajar tari Legong Kuntul dan Jobog.
Pada tahun 1950 bersama beberapa teman diantaranya Jero Gadung Arwati, Ni Made Darmi, Mejawati dan Ni Cawan untuk pertama kalinya pentas di luar Bali, yakni di Kota Surabaya. Mengingat bakatnya yang lumayan di tahun 1951 ia di ajak Wayan Rindi dan Sindhu bersama-sama mengajar tari di sejumlah banjar.
Ibu jero adalah salah seorang penari kesayangan Presiden Soekarno. Setiap kunjungan Presiden ke Bali, ia pasti kebagian menari di Istana Tampak Siring dan di sejumlah tempat di Bali di mana Presiden Soekarno melakukan kunjungan. Di usia remaja pada zaman pemerintahan Soekarno Ibu Jero telah melakukan tugas-tugas Negara terutama dalam rangka diplomasi kebudayaan. Beberapa kali ia sempat di kirim sebagai duta seni ke luar negeri di antaranya India, Singapura dan sejumlah Negara Eropa.
Tahun 1976, ia didatangi sastrawan Angkatan Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisyahbana. Bersama Ibu Reneng ia di ajak melakukan eksprimen tari di Balai Seni Toya Bungkah Kintamani Bangli tempat di mana Sutan Takdir menuangkan ide-idenya. Takdir meminta Ibu Jero dan Ibu Reneng untuk menggarap Reportoar puisi “Perempuan di Persimpangan Jalan“. Namun, sayang sang budayawan ke buru meninggal, karena usia yang sudah tua. Jero Puspawati kemudian kembali ke Puri Satria Denpasar. Di Puri ia membuka kursus tari. Muridnya banyak yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia.

Semoga kisah perjalanan hidup Ibu Jero Puspawati menjadi motivasi dalam menjalankan apapun yang menurut kita sebagai kecintaan kita terhadapnya. Dedikasikan diri kita kepada Tuhan dan orang-orang sekitar agar mendapatkan apa yang disebut cinta sejati dalam berseni.