I Komang Triska Ananda Dilivianugraha Priantara, Pemuda Inspiratif Bali Yang Berprestasi Dan Berjiwa Sosial Tinggi
sirahbaliinfo.com - Ditengah situasi pandemi yang belum berhenti, upaya-upaya bersinergi mulai banyak dilakukan oleh banyak kalangan. Belakangan ini, banyak muncul sosok-sosok muda yang terlihat turun ke lapangan untuk bergerak melakukan aksi nyata dengan membagikan 700 paket makanan siap santap kepada tenaga medis di Bali dan mendistribusikan APD di seluruh RS rujukan yang terdaftar di Bali pada bulan April lalu. Yaps inilah Ananda Priantara.
Pemuda kelahiran Dili, Timor Leste, 13 Juli 1998 ini merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Drs I Made Rika dan Dra Ni Putu Purnawati, pasutri asal Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar yang lama merantau ke luar Bali.
Baca Juga : Puteri Indonesia Bali, Selaraskan Prestasi Dengan Pendidikan Dan Aksi Sosial
Pemilik nama lengkap I Komang Triska Ananda Dilivianugraha Priantara ini hadir memberikan warna baru dan harapan optimisme bagi generasi muda Bali. Sosok Ananda ini sudah tidak asing dikalangan anak muda Bali, khususnya kota Denpasar.

Pemuda lulusan President University Jakarta (Jurusan Hubungan Internasional) ini memang dikenal aktif semenjak duduk dibangku sekolah. Ia pernah memimpin ketua forum komunikasi OSIS SMP kota Denpasar, dan menjadi Ketua OSIS SMAN 7 Denpasar. Bahkan Ananda juga pernah mengikuti pemilihan Teruna Teruni Bali 2014, Duta Wisata Bali 2015 dan sempat menjadi perwakilan Bali di Mister Teen Indonesia tahun 2015.
Lewat aksi sosialnya, Ananda pernah menggalang dana untuk membangun jembatan gantung bagi masyarakat di Desa Kiritana, Sumba Timur. Dengan jembatan gantung tersebut, anak-anak Desa Kiritana kini tak lagi harus berangkat ke sekolah menyeberangai Sungai Lambanapu yang amat berbahaya dan dikenal sebagai habitat binatang buas buaya.
Dari situ, Ananda Priantara mencetuskan ide untuk membantu carikan solusi bagi anak-anak sekolah di Desa Kiritana, yang sudah selama 73 tahun harus berjibaku menyeberangi Sungai Lambanapu yang berbahaya untuk pulang pergi ke sekolahnya. “Nanda melihat sekumpulan anak SD beriringan menuju ke sekolahnya yang harus menempuh perjalanan melewati bukit tandus sepanjang 9-10 kilometer, diselingi melewati sungai yang jadi habitat buaya terbesar di Sumba.”
Menurut Ananda, buaya yang menghuni Sungai Lambanapu sempat beberapa kali menelan korban nyawa. Namun, masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali melintasinya, terlebih anak-anak sekolah juga harus berkutat dengan sungai selebar 68 meter itu untuk menjangkau sekolahnya.
Berangkat dari masalah tersebut, tercetuslah ide untuk menggalang dana buat pembangunan jembatan gantung. Penggalangan dana dilakukan Triska Nanda melalui tagar #KitaUntukLambanapu untuk mengakomodasi transportasi masyarakat dan para pelajar di sana.
Target dana sebesar Rp 510 juta pun terpenuhi, sehingga dibangunlah jembatan gantung sepanjang 68 meter di atas Sungai Lambanapu. Namun, ternyata pembangunan jembatan gantung menghabiskan dana sebesar Rp 1,6 miliar. Artinya, masih terjadi kekurangan dana mencapai Rp 1 miliar lebih.
Beruntung, kata Triska Nanda, ada sebuah Non Governmnet Organization (NGO), semacam LSM, asal Eropa yang bersedia membantu dari segi alat-alat konstruksi, material, dan landscaping tata pembangunan jembatan. Pembangunan jembatan gantung sepanjang 68 meter itu pun tuntas dibangun selama 1,5 tahun, sejak Juli 2018 hingga diresmikan pada Valentine Day 14 Februari 2019 lalu.

“Jadi, penantian masyarakat selama 73 tahun akhirnya membuahkan hasil. Masyakarat setempat sangat bersyukur, karena melalui jembatan gantung di atas Sungai Lambanapu ini, mereka tidak lagi harus memutar jauh kembali jika ingin ke daerah seberang. Para orangtua pun menjadi lebih lega melepas anaknya untuk bepergian ke sekolah,” tutur alumnus SMA Negeri 7 Denpasar ini.
Ananda Priantara mengisahkan, selama proyek jembatan gantung berjalan, banyak tantangan yang harus dihadapinya. Permasalahan itu mulai dari penyebaran informasi, masalah legalisasi, hingga birokrasi. Namun, di balik semua itu, Triska Nanda merasa tertandang dan selalu bersemangat.
Apalagi, dia melihat bantuan terus mengalir dan relawan yang selalu setia untuk membantu terwujudnya gagasan jembatan gantung tersebut. Gerakan Ananda ini sempat viral hingga menjadi perhatian banyak kalangan. Salah satunya, karena Ananda masih tergolong sangat muda, namun berani aktif mengurusi pemerataan pembangunan di Indonesia.
Setelah sukses mewujudkan jembatan gantung di atas Sungai Lambanapu yang cukup membantu masyarakat Desa Kiritana, Sumba Timur, Triska Nanda dan rekan-rekannya kembali menggalan kerakan khusus. Mereka sedang menggalang dana untuk pasutri penyandang difabel di kawasan Buleleng. “Kami fokus menggalang bantuan untuk masyarakat desa-desa yang membutuhkannya.

Kami juga memperhatikan para difabel, dengan harapan terciptanya kehidupan yang lebih baik,” papar adik dari I Gede Eka Prajna Priantara dan Ni Made Dwina Ayuningtyas Priantara, yang sempat meraih penghargaan sebagai Penulis Terbaik berjudul ‘Kinerja Presiden Jokowi’ yang digelar Kantor Staf Kepresidenan tahun 2017 ini.
Wah sungguh menginspirasi sekali ya sosok Sirah Figur muda kita kali ini. Semoga Bali selalu memiliki generasi muda yang berprestasi dan menginspirasi ya.