Filosofi Hari Pagerwesi & Umat yang Wajib Melakukan Yoga Samadhi

Pagerwesi adalah hari raya yang dirayakan pada Budha Kliwon wuku Shinta. Bermakna melambangkan suatu perlindungan yang kuat Hari Raya Pagerwesi dalam Weda Hindu disebutkan bahwa para sulinggih sebagai adi guru loka yaitu guru utama dari masyarakat.

Baca juga : Makna Hari Panegtegan & Karakter Orang yang Lahir Saat Kamis Wage Watugunung

Dalam Parisada Hindu Dharma, yaitu lebih ditekankan dengan melakukan upacara; Ngarga dan Mapasang Lingga. Dan pada tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi).

 

Yadnya (Banten) yang paling utama yaitu untuk Para Pendeta adalah “Sesayut Panca Lingga” sedangkan perlengkapan tetandingan bantennya Daksina, Suci Pras penyeneng, dan Banten Penek.

 

Meskipun hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.  Dan Bagi umat kebanyakan yadnya (banten) disebutkan adalah; natab Sesayut Pageh urip, Prayascita, Dapetan.  Tentunya dilengkapi Daksina, Canang, dan Sodan.

 

Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta, dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

 

Makna Filosofis yang terkandung dalam hari raya ini, sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru, manifestasi Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru sejati yang diiringi oleh Para Dewata Nawa Sanga lainnya.

 

Hari Raya Pagerwesi ini dalam Babad Bali, yang sebagaimana dijelaskan pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata, kita sujud kepada-Nya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstui-Nya dengan; kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.

 

Widhi-widhananya dipersembhakan banten:

Syogauci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, bunga, kembang, asep dupa arum, yang dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta;Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.