NILUH PUTU ARY PERTAMI DJELANTIK MENCINTAI INDONESIA DENGAN CARA BERBEDA

Niluh Putu Ary Pertami Djelantik atau yang lebih dikenal dengan nama Niluh Djelantik adalah perancang sepatu handmade kulit yang lahir di Bangli pada 15 Juni 1975. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa desain sepatu yang sudah dipatenkan pada tahun 2008 dan banyak digunakan oleh pesohor dunia antara lain Uma Thurman, Gisele Bundchen, Tara Reid, Julia Roberts, Robyn Gibson, dan Paris Hilton.

 

Sebelum serius menekuni di bidang rancang sepatu, Niluh Djelantik pernah meraih penghargaan Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards 2010. Kecintaannya pada sepatu menuntunnya menekuni bisnis sepatu yang kini telah dikenal dunia. Tak hanya memenangi penghargaan, label ini juga telah menembus Globus Switzerland, salah satu retailer terkemuka di Eropa, pada 2011.

Baca Juga : NYOMAN OKA WISNUPADA ANTARA YAKINI KARIR, KELUARGA & KEPERCAYAAN JADI MOTIVASI

Masa kecil yang keras menempa Niluh Djelantik menjadi sosok yang kuat. Berasal dari keluarga yang sederhana, kedua orangtuanya bercerai sejak ia berusia satu tahun. Dibesarkan seorang diri oleh sang ibu, dia kerap menemani ibunya berdagang di pasar. Meski begitu, memberikan pendidikan terbaik seolah menjadi tekad ibunda tercinta.

 

Sayangnya, karena kekurangan biaya, Niluh kecil hampir tak pernah mendapatkan sepatu baru. Sepatu yang dimilikinya selalu terlalu besar dan tak pernah muat di kakinya. Sepatu tersebut baru terasa pas saat kondisinya sudah rusak dan berlubang. Sejak itulah alas kaki selalu menjadi perhatian Niluh.

Niluh mencoba peruntungan dengan menjalin kerja sama bersama Cedric Cador, pria yang kemudian menjadi suaminya. Dari kerja sama ini, lahirlah label Nilou, di mana proses pengerjaan sepatu di bawah label ini benar-benar mendapatkan pengawasan ketat dari Niluh.

 

Pada tahun 2008, merek Nilou berubah menjadi Niluh Djelantik. Sang kreator ingin kembali ke akar namanya demi mendekatkan diri kepada visi dan passion-nya.

Di masa pandemi seperti ini, Niluh Djelantik mengubah haluan strategi bisnis yang digunakan. Tidak lagi berorientasi pada apa yang diinginkan orang, melainkan apa yang dibutuhkan orang. Hingga akhirnya Niluh Djelantik memproduksi masker yang dibuat dari tenun Bali.

 

Awalnya, Niluh Djelantik hanya membuat masker dari tenun Bali hanya untuk dibagikan kepada mereka yang tidak mampu membeli masker. Namun melihat ada banyak konsumen yang ingin membeli masker tersebut, akhirnya dibuat menjadi salah satu produk yang dijual di masa pandemi.

 

Bagi Niluh Djelantik ada empat kunci yang membuat sebuah brand mampu bertahan terutama di masa pandemi seperti ini. Yakni kualitas, kepuasan pelanggan, story telling, konsisten, dan cara kita memperlakukan tim.

 

“Pelanggan memang raja. Tapi itu akan merefleksikan bagaimana melayani tim kita. Apakah mereka bisa dimanusiakan. Selama 18 tahun kamu berdiri, hanya berpegang pada 4L, lu lagi lu lagi,” ungkap Niluh Djelantik. Selain aktif di bisnisnya, Niluh Djelantik juga tergabung dalam komunitas relawan Bali KemBALI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *